Jamiat Kheir Institute Indonesia Gelar Studium General dan Harlah ke-47: Meneguhkan Tradisi, Membangun Budaya Mutu, dan Menatap Masa Depan Pendidikan Islam

  1. Home
  2. Uncategorized
  3. IAI Jamiat Kheir Jakarta Rumuskan Program Strategis dalam Rapat Kerja Tahun Akademik 2026/2027

JAKARTA — Jamiat Kheir Institute Indonesia menggelar Studium General yang dirangkaikan dengan Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-47, Ahad, 13 September 2026, di Aula Kampus B Jamiat Kheir Institute Indonesia, Jakarta.

Mengusung tema “Transformasi Perguruan Tinggi Islam: Membangun Budaya Mutu untuk Pendidikan yang Berdampak”, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi agenda akademik dan peringatan perjalanan lembaga, tetapi juga menjadi momentum refleksi mengenai arah dan masa depan pendidikan tinggi Islam di tengah perubahan sosial, teknologi, dan tuntutan mutu yang semakin kompleks.

Studium General menghadirkan Dr. Marliza Oktapiani, M.Pd., Direktur Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Universitas Islam As-Syafi’iyah Jakarta, sebagai narasumber utama.

Tema yang diangkat memiliki relevansi kuat dengan tantangan perguruan tinggi Islam saat ini. Transformasi tidak lagi dapat dimaknai sebatas pemanfaatan teknologi digital atau perubahan administrasi akademik. Transformasi harus menyentuh cara berpikir, tata kelola, kualitas sumber daya manusia, proses pembelajaran, budaya organisasi, sistem penjaminan mutu, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga kemampuan perguruan tinggi menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dari Tradisi Menuju Transformasi

Bagi Jamiat Kheir, perjalanan pendidikan bukanlah sesuatu yang dimulai hari ini. Ada sejarah panjang yang menjadi modal sosial dan intelektual untuk melangkah ke masa depan.

Karena itu, peringatan Harlah ke-47 bukan semata-mata perayaan usia kelembagaan. Momentum tersebut menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan yang telah dilalui sekaligus menjawab pertanyaan yang lebih besar:

Ke mana pendidikan Jamiat Kheir akan dibawa pada masa mendatang?

Di tengah perubahan dunia pendidikan tinggi yang begitu cepat, lembaga pendidikan Islam menghadapi tantangan untuk tetap menjaga identitas dan nilai-nilai keislamannya, sekaligus memiliki kapasitas akademik dan tata kelola yang modern.

Perguruan tinggi Islam dituntut tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik, tetapi juga generasi yang memiliki integritas, karakter, kemampuan beradaptasi, literasi digital, kepedulian sosial, dan kemampuan memberikan solusi terhadap persoalan masyarakat.

Dalam konteks itulah, budaya mutu menjadi sangat penting.

Mutu tidak cukup ditempatkan sebagai dokumen akreditasi atau kewajiban administratif. Mutu harus menjadi cara berpikir dan budaya kerja seluruh sivitas akademika.

Dosen harus terus berkembang. Pembelajaran harus relevan. Penelitian harus menjawab persoalan nyata. Pengabdian kepada masyarakat harus memberikan manfaat. Tata kelola harus semakin transparan dan profesional. Sistem informasi harus mendukung pengambilan keputusan. Dan seluruh proses tersebut harus dilakukan secara berkelanjutan.

Pendidikan yang Tidak Berhenti di Ruang Kelas

Tema “pendidikan yang berdampak” juga memberikan pesan penting bahwa keberhasilan perguruan tinggi tidak semata-mata diukur dari berapa banyak mahasiswa yang diterima atau lulusan yang dihasilkan.

Lebih jauh, pertanyaan yang harus dijawab adalah:

Apa yang berubah setelah seseorang mendapatkan pendidikan?

Apakah lulusan mampu memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat?

Apakah ilmu yang diperoleh mampu menyelesaikan persoalan sosial?

Apakah penelitian kampus menghasilkan pengetahuan yang dapat digunakan?

Apakah pengabdian masyarakat benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat?

Dan apakah perguruan tinggi mampu menjadi bagian dari solusi atas perubahan zaman?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting dalam membangun paradigma baru pendidikan tinggi Islam.

Jamiat Kheir Institute Indonesia memiliki peluang untuk menjadikan pendidikan sebagai kekuatan transformasi sosial dengan mengintegrasikan keislaman, keilmuan, profesionalisme, teknologi, dan kebutuhan masyarakat.

Akademik dan Penjaminan Mutu Menjadi Kunci

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, aspek akademik dan penjaminan mutu juga menjadi perhatian.

Perguruan tinggi yang ingin berkembang tidak dapat hanya mengandalkan individu-individu yang bekerja secara personal. Diperlukan sistem yang memastikan setiap proses berjalan secara konsisten dan dapat dievaluasi.

Karena itu, budaya mutu harus dibangun mulai dari pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa hingga seluruh unit kerja.

Mutu harus menjadi kebiasaan, bukan sekadar program.

Dengan budaya tersebut, evaluasi bukan dimaknai sebagai upaya mencari kesalahan, melainkan sebagai mekanisme untuk menemukan ruang perbaikan.

Akreditasi pun tidak seharusnya dipandang sebagai tujuan akhir. Akreditasi merupakan salah satu instrumen untuk memastikan bahwa perguruan tinggi memiliki sistem pendidikan yang sehat, terukur, terdokumentasi, dan terus mengalami peningkatan.

Harlah ke-47: Refleksi dan Konsolidasi

Rangkaian acara diawali dengan doa bersama, hadhorot, tahlil/ratib, pembacaan Al-Qur’an, serta kegiatan pembukaan.

Selanjutnya, peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Jamiat Kheir sebelum dilanjutkan dengan sambutan Rektor Jamiat Kheir Institute Indonesia, Dr. Hj. Hidayah, M.Si.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua Yayasan Pendidikan Jamiat Kheir, Habib Dr. Umar Alhaddad, MA.

Kehadiran unsur yayasan, pimpinan, dosen dan sivitas akademika dalam momentum tersebut memperlihatkan pentingnya sinergi antara pengelola yayasan dan unsur akademik dalam membangun keberlanjutan lembaga pendidikan.

Usai sesi Studium General, dilakukan penyerahan sertifikat kepada narasumber dan foto bersama. Rangkaian peringatan Harlah kemudian ditutup dengan doa dan pemotongan tumpeng Milad ke-47 sebagai ungkapan rasa syukur.

Tumpeng bukan sekadar simbol seremoni. Ia menjadi simbol rasa syukur atas perjalanan lembaga sekaligus doa agar perjalanan pendidikan Jamiat Kheir terus memperoleh keberkahan dan memberikan manfaat yang lebih luas.

Temu Akademik Dosen: Menyiapkan Semester Baru

Setelah rangkaian Studium General dan Harlah, kegiatan dilanjutkan pada siang hari dengan Temu Akademik Dosen.

Forum yang diikuti pimpinan dan dosen tersebut menjadi ruang konsolidasi akademik menjelang perkuliahan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027.

Temu akademik menjadi penting karena transformasi kelembagaan harus diterjemahkan ke dalam proses kerja akademik sehari-hari.

Visi besar perguruan tinggi pada akhirnya akan terlihat dari kualitas proses pembelajaran di kelas, interaksi dosen dan mahasiswa, kualitas penelitian, produktivitas karya ilmiah, pengabdian kepada masyarakat, serta layanan akademik yang diberikan kepada mahasiswa.

Dengan demikian, Studium General dan Temu Akademik memiliki keterkaitan yang erat: Studium General memberikan perspektif dan gagasan, sementara Temu Akademik menjadi ruang untuk menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam kerja akademik.

Membangun Jamiat Kheir Institute Indonesia untuk Masa Depan

Memasuki perjalanan ke-47, Jamiat Kheir Institute Indonesia memiliki tantangan sekaligus peluang yang besar.

Tantangannya adalah bagaimana lembaga mampu beradaptasi dengan perubahan dunia pendidikan tinggi tanpa kehilangan akar nilai dan identitasnya.

Sementara peluangnya adalah menjadikan warisan panjang Jamiat Kheir sebagai modal untuk membangun lembaga pendidikan Islam yang semakin modern, profesional, inklusif, adaptif, dan berdampak.

Transformasi tersebut membutuhkan keberanian untuk melakukan evaluasi, keterbukaan terhadap inovasi, penguatan kualitas sumber daya manusia, pengembangan sistem digital, peningkatan budaya penelitian, penguatan pengabdian kepada masyarakat, serta penataan tata kelola yang berorientasi pada mutu.

Pada akhirnya, masa depan perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh seberapa panjang sejarahnya, tetapi oleh seberapa kuat kemampuannya menerjemahkan sejarah menjadi energi untuk menciptakan masa depan.

Harlah ke-47 Jamiat Kheir Institute Indonesia menjadi momentum untuk meneguhkan kembali semangat tersebut.

Dari tradisi menuju transformasi.
Dari pendidikan menuju kebermanfaatan.
Dari budaya kerja menuju budaya mutu.
Dari kampus menuju pendidikan yang benar-benar berdampak bagi masyarakat.

Jamiat Kheir Institute Indonesia diharapkan terus tumbuh menjadi institusi pendidikan tinggi Islam yang mampu menjaga warisan nilai, memperkuat tradisi keilmuan, sekaligus menjawab kebutuhan generasi dan masyarakat masa depan.

Pengabdian Kepada Masyarakat (2)
20Jul

Pengabdian Kepada Masyarakat (2)

Jakarta, Rabu, 19 Juli 2023 – Pada hari ini, Yayasan…

Pengabdian Masyarakat Juli 2023
07Jul

Pengabdian Masyarakat Juli 2023

Pada Rabu, 5 Juli 2023, Dosen Kewiraan Bp. Hariyadi, M.Pd…

Rapat Kerja Pimpinan Tahun 2023
07May

Rapat Kerja Pimpinan Tahun 2023

Jakarta, 16-17 Syawal 1444 H/ 6-7 Mei 2023 Dalam rangka…

Cara Publikasi Artikel Jurnal Ilmiah melalui OJS Al Kheir
02Jan

Cara Publikasi Artikel Jurnal Ilmiah melalui OJS Al Kheir

Publikasi artikel jurnal ilmiah melalui OJS merupakan proses publikasi jurnal…

1 13 14 15 16 17 18